Rabu, 04 Mei 2011

Telur lukis banyak diminati Wisatawan asing




Liputan6.com, Gianyar: Seniman di Sukowati, Gianyar, Bali, tak selalu menggunakan kanvas kain sebagai media untuk melukis. Mereka juga kerap menggunakan aneka jenis telur sebagai tempat untuk mengekspresikan karya seninya. Karya seni telur lukis ini banyak dijumpai di kawasan Banjar Gerih, Batuan, Gianyar. Banyak wisatawan datang ke daerah itu untuk berburu buah tangan berupa karya seni telur lukis.

Di tempat itu, para tamu bisa memilih aneka jenis telur sebagai media lukis mulai dari dari ayam hingga telur burung onta. Begitu juga dengan corak tema lukisannya. Banyak pilihannya mulai dari satwa, tumbuhan hingga tema tradisional Bali.

Menurut Ni Made Ariek, salah seorang pelukis telur di Desa Sukowati, Gianyar, Sabtu (3/4), untuk melukis telur dibutuhkan keahlian khusus agar gambar dan kompisisinya terlihat bagus dan menarik. Selain itu dibutuhkan juga jam terbang tinggi agar kualitas gambar dan pewarnaan terlihat hidup.

Jenis telur yang digunakan biasanya telur bebek, angsa, buaya, kasuari dan telur burung onta. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 25 ribu untuk telur bebek sampai Rp 700 ribu untuk telur burung unta. Harga jualnya juga tergantung motif gambar, rumit atau tidak. Sejauh ini pembelinya lebih banyak turis asing dari Asia dan Eropa yang kagum dengan keindahan lukisan telur khas Bali.(IAN)

Senin, 02 Mei 2011

Terminal Batubulan

Tempat ini hanya beroperasi hingga pukul 5 sore hari, karena pada malam harinya tempat ini beralih fungsi menjadi tempat makan atau di Bali lebih sering di sebut pasar senggol. Tempat ini merupakan terminal utama untuk wilayah Bali timur.




Dahulunya terminal ini sebagai penghubung antar kabupaten , terutama Bali bagian timur seperti kabupaten Gianyar, Klungkung , dan Karangasem

Desa Celuk sumbernya pengerajin perak dan perak

Citra yang paling menonjol tentang desa Celuk adalah sebuah desa obyek wisata kerajinan emas perak. Desa yang terletak di Kecamatan Sukawati, dengan lokasi desa yang sangat strategis sekitar 10 km ke arah timur laut dari Denpasar, desa Celuk berada dalam jaringandesa-desa pengerajin yaitu desa Batubulan, desa Batuan, desa Mas.


Salah satu pengerajin lokal yang membuat aksesories cincin dari perak


Hasil kerajinan emas dan perak yanag dihasilkan di desa Celuk memiliki kualitas yang bermutu tinggi serta mampu memproduksi dalam kuantitas yang besar. Hampir semua keluarga dan penduduk desa Celuk terampil dan seni dalam mengembangkan kreasi desain dan variasi terkait dengan kerajinan emas dan perak dimana hasil produksinya telah memasuki pasar lokal, nasional dan international. Beragam jenis kreasi dan variasi perhiasan, baik sebagai cendramata maupun komoditi ekspor diproduksi di desa ini seperti cincin, gelang, kalung, anting-anting, giwang, bross dan berbagai jenis perhiasan lainnya.

Sebagai desa obyek wisata, Celuk dapat dikunjungi setiap hari untuk melihat dari dekat para seniman yang sedang berkreasi membuat perhiasan emas dan perak yang bermutu tinggi. Di sini kita juga bisa membeli langsung perhiasan-perhiasan di etalase yang dipajang langsung di workshop para seniman

Kerajinan perak itu dipajang di rak-rak kaca tembus pandang. Di beberapa art shop, rak kaca itu sengaja dipamerkan sehingga, meskipun hanya lewat, turis dapat melihat barang-barang kerajinan dari perak tersebut. Maka, tidak sedikit turis yang kemudian singgah. Hanya melihat-lihat atau bahkan membeli banyak kerajinan perak itu.

Masuk di art shop Mutiara, misalnya, kita akan mendapatkan sekitar 30 rak berjejer di dalam ruang sekitar10x10 meter persegi. Jenis kerajinan perak yang ada di Mutiara mulai dari perhiasan, peralatan makan, maupun hiasan dinding atau sekadar pajangan. Perhiasan itu antara lain anting, cincin, gelang, kalung, liontin, dan bros. Peralatan makan beberapa diantaranya adalah sendok, garpu, piring, bokor (yang kadang-kadang dipakai untuk tempat banten ketika sembahyang), cangkir, gelas, dan semacamnya. Sedangkan pajangan dinding misalnya keris, miniatur perahu, kipas, dan masih banyak benda di art shop ini.

Kalau Anda tertarik, tidak usah canggung untuk masuk dan melihat-lihat barang. Sebab dengan senang hati, penjaga art shop akan mempersilakan kita masuk dan melihat-lihat kerajinan yang mereka pajang. Penjaga art shop itu biasanya berpakaian adat ringan, namun ada juga yang berpakaian baju masing-masing art shop. Di Mutiara, misalnya ada delapan karyawan di art shop yang berdiri sejak 1985 tersebut.

Salah seorang dari karyawan itu akan menemani kita melihat-lihat setiap rak yang dipajang. Bentuk dan penyusunan rak serta isinya hampir seluruhnya seragam di setiap art shop. Di art shop Dewi’s misalnya penyusunannya tidak jauh berbeda dengan yang di art shop Mutiara. Demikian halnya art shop lain yang ada di Celuk. Rak-rak itu dipajang membentuk huruf U mengikuti bentuk ruangan. Pajangannya berlapis-lapis. Maksudnya, dari yang paling luar kemudian ada rak lagi di bagian lebih dalam. Antara lapis satu dengan lapis lain ada jarak sekitar 0,5 meter yang memungkinkan pengunjung untuk bergerak leluasa.

Selain itu juga ada rak yang letaknya persis dekat dinding. Umumnya rak yang menempel ini untuk kerajinan yang berfungsi sebagai pajangan misalnya kipas dan keris itu tadi. Di antara rak-rak yang dekat dinding ruangan ini juga ada beberapa lemari untuk tempat kerajinan seperti cincin dan liontin. Setiap rak menggunakan kaca bening sebagai dinding. Sehingga pengunjung yang datang bisa melihat kerajinan itu dari sisi depan, belakang, maupun kanan kiri. Atau kalau kita ingin melihat lebih detail, karyawan yang menemani akan mengambilnya untuk kita. Kita bisa bertanya kalau ada hal yang kurang jelas. Di setiap kerajinan itu selalu terdapat harga yang ditulis di kertas yang menempel pada benda tersebut. Biasanya harga dalam dolar. Tapi untuk turis lokal, harganya tentu saja dalam rupiah.

Barang-barang kerajinan disusun berdasarkan kategori apakah itu perhiasan, perlengkapan makan, atau pajangan. Di dalam rak perhiasan, cincin akan dipajang bersama atau berdampingan dengan anting, bros, gelang, liontin, cemiti, rantai, dan semacamnya. Gelas akan dipajang dekat dengan teko, piring, tatanan meja, sendok, dan garpu. Sedangkan kipas, miniatur sepda motor, rumah gadang, kunci raksasa, becak, dan pajangan lain akan bersebelahan.


Wisatawan asing yang tampak sangat attractive untuk menyimak penjelasan dari pengerajin perak bagaimana cara membuat kerajinan dari perak

Kalau selesai melihat-lihat rasanya kurang afdhol kalau kita tidak beli kerajinan tersebut sekalian. Harga kerajinan itu bergantung jenisnya. Benda paling murah adalah liontin seharga sekitar Rp 35.000. Sedangkan paling mahal bisa sekitar Rp 12 juta yaitu miniatur kapal layar. Sehari-hari, kerajinan paling laris adalah perhiasan yang rata-rata harganya tidak sampai Rp 1 juta seperti liontin dan cincin. Harga tiap jenis perhiasan juga tergantung modelnya. Setiap perhiasan paling tidak punya 40 model. Jadi, meskipun sama-sama anting, bentuknya ada yang kecil ada juga yang memanjang atau melingkar. Harga setiap jenis berbeda.

Di Mutiara, sebagai contoh, harga beberapa barangnya adalah cincin $ 90, miniatur becak $ 111, liontin $ 97, kalung $ 142, liontin kupu-kupu $ 20. Sekali lagi, kalau untuk pengunjung lokal, harga tidak dalam dolar Amerika tapi dalam rupiah. Wisatawan luar negeri pun bisa membeli dengan rupiah. “Penggunaan dolar hanya untuk memberikan harga yang mudah kepada turis. Pembayaran tidak harus dalam bentuk dolar,” kata Wayan Arnawa, pemilik Mutiara. Harga di kertas itu bisa berbeda kalau kita menawar. Melalui tawar menawar, biasanya pembeli bisa mendapatkan barang dengan harga separuh dari harga di kertas.

Menariknya, kalau Anda belanja kerajinan perak di tempat ini, Anda juga bisa melihat-lihat proses pembuatan kerajinan tersebut. Secara umum ada dua proses pembuatan yaitu secara tradisional dan secara modern. Tapi ada juga yang menggabungkan keduanya. Semua proses itu dilakukan sebagian maupun seluruhnya di toko yang menjual kerajinan.

Celuk mulai dikenal sebagai daerah produksi kerajinan perak sejak sekitar tahun 1976. Menurut beberapa warga desa Celuk, awalnya hanya ada tiga perajin perak di desa tersebut yaitu Sandiyasa, Sura, dan Semadi. Mereka membuat kerajinan perak lalu memajangnya di depan rumah. Pada saat itu, booming pariwisata mulai terasa di Bali. Turis mancanegara pun berdatangan ke Bali. Salah satu tempat yang menjadi objek wisata tersebut, selain pantai Kuta adalah gunung Batur dan Kintamani.

Turis yang akan ke Kintamani dari Denpasar pasti akan lewat Celuk. Sebab ketika itu satu-satunya jalan yang menghubungkan Denpasar dan Kintamani memang harus lewat Celuk. Beberapa turis kemudian mampir ke Celuk untuk melihat kerajinan perak tersebut dan membelinya. Dari situlah informasi tentang Celuk sebagai produsen kerajinan perak mulai menyebar di kalangan pariwisata Bali. Seiring dengan kemajuan pariwisata Bali, Celuk pun semakin dikenal oleh turis yang berdatangan. Hingga akhirnya semakin banyak pula perajin perak di Celuk. Warga desa Celuk yang semula menjadikan pengrajin perak sebagai pekerjaan nomor dua alias sambilan pun kemudian beralih menjadikan pekerjaan utama. Awalnya pertanian adalah sumber pendapatan utama, namun saat ini hampir seluruh warga Celuk hidup dari kerajinan perak.

Untuk mendapatkan bahan baku kerajinan, para pengrajin mendapatkannya dari pemasok bahan perak di Denpasar yang mendapat pasokan perak dari Jawa atau Kalimantan. Sebab, Bali memang tidak punya pertambangan perak. Bahan baku perak ini ada yang berbentuk batangan, ada juga yang berbentuk bola-bola sangat kecil. Untuk membuat kerajinan, bahan baku perak kemudian dicampur dengan 7,5% tembaga. Jadi, kadar peraknya 92,5%. Hal ini dilakukan agar perak yang dibuat tidak terlalu lemas. “Kalau terlalu lemas akan cepat rusak,” kata Nyoman Surni, salah seorang pengrajin.

Pada pembuatan secara tradisional, untuk mencampur perak dan tembaga ini kedua bahan dipanaskan dengan api dari kompor yang menggunakan bahan bakar gas. Sistem kerjanya mirip dengan tukang las. Hanya saja agar api bisa keluar, pengrajin yang membuat harus menginjak kompor tersebut. Api pun keluar menyemprot ke arah bahan hingga luntur.

Setelah itu bahan dipotong berdasarkan keperluan. Misalnya untuk gelang, bahan itu dibentuk pipih dengan lebar 2-3 cm dan panjang sekitar 15 cm. Karena masih lentur, bahan itu kemudian dibentuk melingkar seperti layaknya gelang. Pada sisi potongan itu diberi dasar kawat yang dilekatkan dengan lem pada bentuk gelang itu tadi. Untuk menghaluskan sambungan kawat dengan perak, kedua bahan juga dipatri sehingga melekat permanen. Baru kemudian gelang tesebut diisi dekorasi atau hiasan batu mulia atau hiasan lainnya sebagai aksesori.

Bahan yang jadi itu kemudian diampelas dan dibersihkan dengan asam jawa kemudian direndam dengan garam dan air yang mendidih. Selesai dibersihkan dengan air mendidih, bahan disikat untuk kemudian dikeringkan sampai tidak ada air sama sekali pada gelang. Untuk membuat agar mengkilap, bahan dipoles dengan mesin pemoles. Dan, barang siap dijual.

Lamanya membuat barang kerajinan ini tergantung pada tingkat kerumitan pembuatannya. Misalnya cincin yang relatif kecil tentu saja berbeda dengan miniatur becak misalnya. Cincin yang sederhana desainnya lebih cepat proses pembuatannya daripada miniatur becak yang bisa sampai seminggu. Proses pembuatan kerajinan di Celuk biasanya sistem tahapan, tidak per barang. Misalnya membuat gelang, selama satu hari hanya membuat campuran dulu hingga bentuknya dulu. Besoknya baru diberi aksesoris hingga barang siap dijual.

Umumnya, untuk barang kerajinan sederhana semacam cincin, di tiap art shop terdapat beberapa pengrajinnya. Di art shop Mutaiara misalnya, ada tiga pengrajin untuk membuat kerajinan sederhana seperti cincin, gelang, dan anting. Sedangkan kerajinan yang rumit, biasanya ada tukang lain yang membuat. Selain mengandalkan pada pengrajinnya, menurut Wayan Arnawa, Mutiara juga membeli dari beberapa pengrajin di desa. “Namun saya jarang melakukan itu,” aku bapak dua anak tersebut. Model yang sama diterapkan di semua art shop. Selain ada pengrajin sendiri, mereka juga membeli dari pengrajin lokal.


Mengenai pemasaran, konsumen terbesar adalah turis yang berkunjung. Informasi tentang art shop di Celuk banyak disebarluaskan oleh para travel agen. “Kami memang bekerjasama dengan mereka,” kata Wayan Arnawa. Namun beberapa art shop yang sudah dikelola secara profesional, malah membuka cabang di tempat lain. Suarti Collection, misalnya, mempunya cabang juga di Amerika Serikat dan di Kuta. Dari sisi desain produk juga lebih beragam.

Produk kerajinan perak buatan Celuk ini juga beredar di beberapa pusat penjualan souvenir di Bali seperti Pasar Sukawati, Gianyar yang berjarak sekitar 3 km dari Celuk atau Pasar Kumbasari, Denpasar. Kerajinan perak ini juga dijual di beberapa kawasan wisata di Bali seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Ubud, dan Kintamani. Selain harganya berbeda, secara psikologis tentu akan lebih puas kalau belanja kerajinan perak di tempat pembuatannya langsung, di Celuk. Tinggal Anda yang menentukan pilihan kerajinan perak macam apa yang Anda inginkan.


Pengerajin perempuan dengan telaten mengerjakan "finishing " dari kerajinan perak

Namun, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan kalau berburu kerajinan perak di Celuk Sukawati. Pertama, sebaiknya Anda datang dengan guide atau paling tidak dengan teman yang bisa berbahasa Bali. Sebab dengan demikian, komunikasi antara kita dengan penjual akan lebih terbuka. Ini akan memudahkan pada proses penawaran. Kedua, tidak usah sungkan untuk melihat satu per satu barang yang dicari sebelum memutuskan membeli barang yang mana. Sebab, setiap produk minimal punya 40 model. Jadi, harus sabar mencari barang yang pas untuk dibeli. Ketiga, jangan terlalu cerewet apalagi kalau sampai tidak jadi membeli. Sebab, menurut beberapa penjual, mereka paling tidak suka dengan turis yang terlalu banyak omong tapi tidak jadi membeli barang. Keempat, kalau menawar, tawarlah harga hingga separuh dari harga yang diberikan oleh pedagang. Kalau beruntung, Anda bisa mendapatkan barang itu dengan separuh harga. Juga sebaiknya pakai rupiah saja bukan dolar biar lebih murah.

Batubulan

Batubulan terletak kurang lebih 10 km dari kota Denpasar dan 17 km dari kota Gianyar. Desa Batubulan yang berbatasan dengan desa Celuk dan Singapadu mempunyai persamaan dalam hal kesenian, yaitu: seni tari, patung dan aneka ragam tabuh yang memikat hati. Dalam hal pendidikan, Batubulan tidak mau kalah dengan Denpasar. Di sini terdapat 2 sekolah bergengsi : SESRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia ) dan SMKI (Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia) yang akan memikat wisatawan dengan suguhan tarian dan tabuh yang artistik.

Berdasarkan ciri khas bentuk patungnya, Batubulan mempunyai bentuk tersendiri dan agak ekstrem dibandingakan dengan yang lainnya. Hal ini terlihat jelas pada ukiran-ukiran yang terpahat pada bangunan suci, rumah, kantor, jembatan, hotel, restoran dan lain-lainnya yang nggak kamu temuin di tempat lain.
Kalo kamu ingin suasana cool, kamu mesti nyempetin cuci mata e’ ngeliat artshop yang bertebaran sepanjang jalan. Kamu dapat ngliat para pematung yang lagi asyik nuangin idenya untuk membuat suatu mahakarya yang individualis, seperti: patung dewa, tokoh-tokoh pewayangan, patung Sang Budha, bahkan raksasa dan sejenisnya ( contohnya 2 setan sejoli Asnawa-Kompiang ).

Bahan yang digunakan kebanyakan adalah batu “Paras”, hasil dari letusan gunung berapi dan menjadi endapan. Paras berwarna abu-abu dan mudah dibentuk. Patung-patung paras jarang diminati wisatawan, tapi kebanyakan dibeli oleh orang lokal untuk keperluan adat.

Hal ini juga menyebabkan daya beli masyarakat Bali lebih tinggi dibandingkan dengan wisatawan lainnya. Selain sebagai pajangan, ternyata ada hal lainnya yang tak kalah pentingnya, yaitu sebagai sarana religius masyarakat Hindu di Bali. Suasana Hindu sangat kental di sini, jadi kamu jangan heran ngliat kalo ukiran Paras dapat kita temui di kantor-kantor swasta maupun pemerintahan.

Jika kamu kebetulan jalan-jalan di Batubulan, singgah dulu di tokonya Made Sura dan Made Leceg yang letaknya di jalan utama yang nggak ngebingungin kamu. Toko mereka lumayan lengkap dan menjual cinderamata dalam kapasitas besar, seperti: furniture artistik dari bambu, barang antik, dan beraneka ragam ukiran yang asyik gila.

Kehebatan para pematung lokal dapat kita lihat pada areal Pura Puseh yang mana mereka memadukan unsur kebudayaan Hindu dengan unsur non Hindu. Kamu dapat ngliat patung gajah mammoth (kamu tau khan nggak ada mammoth di Bali) e’ patung Sang Bhuda dengan mimik khas orang Bali (kebayang nggak ya!).

Kamu juga dapat ngliat patung Raja Airlangga dari Jawa Timur yang memadukan unsur-unsur Jawa dan Bali. Gerbang Pura lebih condong kepada ciri khas India Selatan. Walaupun demikian, bukan berarti seniman di sini plagiator yang seenaknya menjiplak hasil karya orang lain. Mereka menemukan sesuatu yang baru dari beberapa buku yang dipinjam dari Balai Arkeologi.

Pura ini dijunjung oleh masyarakat setempat sebagai wujud penghormatan kepada Tuhan/Ida Sanghyang Widi yang memelihara dan menjaga kelangsungan hidup mereka. Di dalam areal Pura, disimpan topeng Barong yang dikeramatkan. Masyarakat di sana percaya dan sering mendengar adanya suara-suara dan gerakan tari dari dalam tempat penyimpanan Barong tersebut, walaupun nggak ada orang yang menarikannya.

Sejak tahun 1936, tari-tarian terus dipentaskan di desa ini. Tetapi sejak meletusnya perang kemerdekaan, tidak ada pentas tari. Saat sekarang ini tari-tarian masih sering dipentaskan, kecuali pada saat Hari Raya Nyepi. “Denjalan Barong”, tarian asli desa ini diciptakan tahun 1970 dan dipentaskan tiap pagi untuk mengiringi drama tari Barong. Pada era80-an terbentuklah grup kesenian terkenal, yaitu: Puri Agung dan Tegaltamu.

Khusus untuk konsumsi turis dan kamu-kamu, tontonan akan lebih dipersingkat dan konsumtif. Jadi kamu-kamu nggak perlu mikir pakem cerita yang rumit. Hal ini semacam rekreasi dalam formasi yang sederhana dan mudah dimengerti. Ini nggak berarti ngebosanin kamu, sebab selama pertunjukan akan diselingi dengan humor-humor yang surprise banget.

Selain tokoh-tokoh utama; ada juga tokoh-tokoh jenaka, kera yang bandel tapi imut, raksasa dan seni pantomin khas Batubulan. Perlu diketahui juga, Batubulan merupakan tempat asal tarian Kecak Bojog (bojog = kera) yang diciptakan tahun 1928 oleh pelukis Walter Spies yang ditujukan kepada sutradara film asal Jerman, Baron von Plessen, yang memproduksi film pertama tentang Bali’The Isle of Demon’ pada tahun 1931. Dalam film tersebut diceritakan ketika mereka berdua menonton tarian Sanghyang Dedari, tiba-tiba salah satu penari meloncat ke atas panggung dan menarikan tari Baris.

Hal inilah yang membangkitkan ide Spies, bahwa ada kombinasi antara tarian sakral yang mana penarinya kerasukan roh dan menarikan tari Baris yang merupakan tarian perang. Kemudian ia memasukkan unsur gamelan asli tarian itu dalam film. Tetapi di kemudian hari ia sangat kecewa, karena unsur-unsur tersebut tidak dimasukkan dalam film ini.

Saat sekarang ini kamu sudah dapat ngliat empat tarian sekaligus setiap hari dan duduk di kursi bambu sambil menikmati indahnya pemandangan sawah yang membentang luas. Setiap malam minggu, kamu dapat nonton tari Kecak dan tari Sanghyang pada panggung yang terpisah. Tarian ini terkenal dan disertai dengan tari Kuda Kepang yang berjalan di atas bara, serta ditemani oleh dua orang penari Sanghyang Dedari yang imut dan manis.

Menelusuri keindahan kabupaten Gianyar (tempat guide freelancer anda berasal )


Kurang pas ketika kita mulai mengenal keragaman dan khasanah suatu daerah  tanpa mengenal sejarah dari kota tersebut .
Sejarah Kota Gianyar ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar No.9 tahun 2004 tanggal 2 April 2004 tentang Hari jadi Kota Gianyar.
Sejarah dua seperempat abad lebih, tempatnya 236 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton, Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali. Sesungguhnya berfungsinya sebuah kerton yaitu Puri Agung Gianyar yang telah ditentukan oleh syarat sekala niskala yang jatuh pada tanggal 19 April 1771 adalah tonggak sejarah yang telah dibangun oleh raja (Ida Anak Agung) Gianyar I, Ida Dewata Manggis Sakti memberikan syarat kepada kita bahwa proses menjadi dan ada itu bisa ditarik kebelakang (masa sebelumnya) atau ditarik kedepan (masa sesudahnya).
Berdasarkan bukti-bukti arkeologis. di wilayah Gianyar sekarang dapat diinterprestasikan bahwa munculnya komunikasi di Gianyar sejak 2000 tahun yang lalu karena diketemukannya situs perkakas (artefak) berupa batu, logam perunggu yaitu nekara (Bulan Pejeng), relief-relief yang menggambarkan kehidupan candi-candi atau goa-goa di tebing-tebing sungai (tukad) Pakerisan.
Setelah bukti-bukti tertulis ditemukan berupa prasasti diatas batu atau logam terindetifikasi situs pusat-pusat kerajaan dari dinasti Warmadewa di Keraton Singamandawa, Bedahulu. Setelah ekspedisi Gajah Mada (Majapahit) dapat menguasai Pulau Bali maka di bekas pusat markas laskarnya dirikan sebuah Keraton Samprangan sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang dipegang oeleh Raja Adipati Ida Dalem Krena Kepakisan (1350-1380), sebagai cikal bakal dari dinasti Kresna Kepakisan, Kemudian Keraton Samprangan berusia lebih kurang tiga abad. Lima Raja Bali yang bergelar Ida Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460),2) Ida Dalem Waturenggong (1460-1550),3) Ida Dalem Sagening (1580-1625) dan 5) Ida Dalem Dimade (1625-1651). Dua Raja Bali yang terakhir yaitu Ida Dalem Segening dan Ida Dalem Dimade telah menurunkan cikal bakal penguasa di daerah-daerah. Ida Dewa Manggis Kuning (1600-an) penguasa di Desa Beng adalah cikal bakal Dinasti Manggis yang muncul setelah generasi II membangun Kerajaan Payangan (1735-1843). Salah seorang putra raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe yang bernama Ida Dewa Agung Anom muncul sebagai cikal bakal dinasti raja-raja di Sukawati (1711-1771) termasuk Peliatan dan Ubud. Pada periode yang  sama yaitu periode Gelgel muncul pula penguasa-penguasa daerah lainnya yaitu I Gusti Ngurah Jelantik menguasai Blahbatuh dan kemudian I Gusti Agung Maruti menguasai daerah Keramas yang keduanya adalah keturunan Arya Kepakisan.
Dinamika pergumulan antara elit tradisional dari generasi ke generasi telah berproses pada momentum tertentu, salah seorang diantaranya sebagai pembangunan kota keraton atau kota kerajaan pusat pemerintahan kerajaan yang disebut Gianyar. Pembangunan Kota kerajaan yang berdaulat dan memiliki otonomi penuh adalah Ida dewa Manggis Sakti, generasi IV dari Ida Dewa Manggis Kuning. Sejak berdirinya Puri Agung Gianyar 19 April  1771 sekaligus ibu kota Pusat Pemerintah Kerajaan Gianyar adalah tonggak sejarah. Sejak itu dan selama periode sesudahnya Kerajaan Gianyar yang berdaulat, ikut mengisi lembaran sejarah kerajaan-kerajaan di Bali yangterdiri atas sembilan kerajaan di Klungkung, Karangasem, Buleleng, Mengwi, Bangli, Payangan, Badung, Tabanan, dan Gianyar. Namun sampai akhir abat ke-19, setelah runtuhnya Payangan dan Mengwi di satu pihak dan munculnya Jembrana dilain pihak maka Negaraa): Klungkung, Karangasem, Bangli dan Gianyar (ENI, 1917).
Ketika Belanda telah menguasai seluruh Pulau Bali, Kedelapan bekas kerajaan tetap diakui keberadaannya oleh Pemerintah Guberneurmen namun sebagai bagian wilayah Hindia Belanda yang dikepalai oleh seorang raja (Selfbestuurder) di daerah Swaprajanya masing-masing. Selama masa revolusi, ketika daerah Bali termasuk dalam wilayah Negara Indonesia Timur (NIT) otonomi daerah kerjaan (Swapraja) kedalam sebuah lembaga yang disebut Oka, Raja Gianyar diangkat sebagai Ketua Dewan Raja-raja menggantikan tahun 1947. Selain itu pada periode NTT dua tokoh lainnya yaitu Tjokorde Gde Raka Sukawati (Puri Kantor Ubud) menjadi Presiden NIT, dan Ida A.A. Gde Agung (Puri Agung Gianyar) menjadi Perdana Menteri NIT, Ketika  Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950, maka daerah-daerah diseluruh Indonesia dengan dikeluarkan Undang-undang N0. I tahun 1957, yang pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang No.69 tahun 1958 yang mengubah daerah Swatantra Tingkat II (Daswati II). Nama Daswati II berlaku secara seragam untuk seluruh Indonesia sampai tahun 1960. Setelah itu diganti dengan nama Derah Tingkat II (Dati II).
Namun Bupati Kepala Derah Tingkat II untuk pertama kalinya dimilai pada tahun 1960. Bupati pertama di DatiII Gianyar adalah Tjokorda Ngurah (1960-1963). Bupati berikutnya adalah Drh. Tjokorda Anom Pudak (1963-1964) dan Bupati I Made Sayoga, BA (1964-1965).
Ketika dilaksanakannya Undang-Undang No. 18 tahun 1965, maka DATI II diubah dengan nama Kabupaten DATI II. Kemudian disempurnakan dengan dikeluarkannya Undang-Undang No.5 tahun 1974 yang menggantikan nama Kabupaten. Kepala daerahnya tetap disebut Bupati.
Sejak tahun 1950 sampai sekarang yang hampir lima dasawarsa lebih telah tercatat sembilan orang Kepala Pemerintahan/Bupati Gianyar yaitu: 1. A.A. Gde Raka (1950-1960),2) Tjokorde Ngurah (1960-1963),3) Drh. Tjokorde Dalem Pudak (1963-1964), 4) I Made Sayonga (1964-1965),5) Bupati I Made Kembar Kerepun (1965-1969), 6) Bupati A.A. Gde Putra, SH (1969-1983), 7) Bupati Tjokorda Raka Dherana, SH (1983-1993), 8)Bupati Tjokorda Gde Budi Suryawan, SH (1993-2003), dan 9) Bupati A.A.G. Agung Bharata, SH (2003-2008). Dari sisi otonomi jelas nampak, proses perkembangan yang terjadi di Kota Gianyar. Otonomi dan berdaulat penuh melekat pada Pemerintah kerjaan sejak 19 April 1771 kemudian berproses sampai otonomi Daerah di Tingkat II Kabupaten yang diberlakukan sampai sekarang.
Berbagai gaya kepemimpinan dan seni memerintah dalam sistem otonomi telah terparti di atas lembaran Sejarah Kota Gianyar. Proses dinamika otonomi cukup lama sejak 19 April 1771 sampai 19 April 2005 saat ini, sejak kota keraton dibangun menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang otonomi sampai sebuah kota kabupaten, nama Gianyar diabadikan. Sampai saat ini telah berusia 234 tahun, para pemimpin wilayah kotanya, dari raja (kerajaan) sampai Bupati (Kabupaten), memilikiciri dan gaya serta seni memerintah sendiri-sendiri di bumi seniman. Seniman yang senantiasa membumi di Gianyar dan bahkan mendunia.


Berikut adalah gambar landmark Kota Gianyar , ada tepat di pusat Kota Gianyar bila perjalanan anda dari kota Denpasar sekitar 35 menit . 

Landmark kota yang berada di batas-batas kota. Pengunjung yang memasuki kota dari arah barat akan menemukan dua patung bercat putih, berupa Dewa Wisnu yang menunggangi kendaraan saktinya Garuda tengah bertarung dengan sosok raksasa dan satu lagi berupa patung kereta kuda dengan Arjuna dan Krisna tengah bertarung di medan perang Kurusetra. Kedua patung tersebut dibangun oleh kreativitas seniman Bali yang banyak ditemui di pelosok Gianyar. Keberadaan kedua patung tersebut juga menunjukkan betapa lekatnya nuansa religius dalam kehidupan masyarakat kota. Didukung dengan kreativitas warga kota dalam berkesenian, religiusitas tersebut diwujudkan menjadi patung dengan inspirasi kisah pewayangan, sekaligus mengingatkan atas kepercayaan terhadap karma phala (hasil perbuatan) sebagai keutamaan bagi warga Kota Gianyar yang sebagian penduduknya beragama Hindu. Patung yang pertama mengisahkan perebutan Tirta Amerta (air suci yang dapat membuat kekal kehidupan peminumnya) antara dewa dan raksasa (butha kala) yang dimenangkan oleh para dewa. Patung yang kedua merupakan pertarungan antara Pandawa dan Kurawa dalam epik Mahabaratha.

Dan berikut landmark kota Gianyar yang dekat dengan pusat pemerintahan dan kantor orang nomor 1 di kabupaten Gianyar.


Memasuki kota dari arah timur dapat menemukan sosok patung Arjuna yang tengah bersiap melepaskan anak panah dengan mata panah ke arah pusat kota. Patung ini sekaligus menjadi petunjuk arah bagi mereka yang mamasuki kota untuk menuju pusat kota. Detail dan kemegahan dari patung tersebut menciptakan impresi bahwa Kota Gianyar merupakan kota dengan warganya yang nyeni (berkesenian). Selain itu, identitas Kota Gianyar didukung dengan patung, dan bangunan yang bernuansakan budaya lokal yang banyak dipengaruhi tradisi leluhur maupun agama Hindu.
Meskipun kota ini bukanlah sentra kerajinan, tidak seperti Ubud maupun Sukawati, dua kota kecamatan lainnya di Kabupaten Gianyar, kreativitas warga kota ditunjukkan dengan bangunan-bangunan dengan ragam dan motif tradisional. Bangunan yang menonjol adalah Sasana Budaya yang terletak di pusat kota lama. Bangunan ini digunakan sebagai pusat pertunjukkan seni maupun pameran. Tangga yang tinggi menuju pintu masuk memberikan kesan megah. Atapnya berjenjang dan di sisi bangunan berdiri menara yang biasanya digunakan untuk meletakkan kulkul (alat komunikasi tradisional menyerupai kentongan). Letaknya yang berada di Puri Agung Gianyar masih mendukung keberadaannya zona pusat kota lama agar tetap lestari. Kreativitas lainnya yang nampak secara visual dari kota ini adalah keberadaan bangunan perkantoran pemerintah dan pusat perbelanjaan yang modern dipadukan dengan motif pahatan tradisional pada sisi-sisi bangunan tertentu. Selain karena desakan eksternal berupa Perda nomor 2, 3 dan 4 tahun 1977, salah satu yang menarik untuk disoroti adalah keberadaan mall di dekat Puri Agung Gianyar yang tetap menampilkan ornamen dan bentuk tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi yang berkembang dari sebuah kota dapat tetap diwadahi oleh arsitektur tradisional Bali. Kondisi ini jauh berbeda dengan kota-kota lainnya di Bali yang telah mulai tergerus dengan modernitas. Kondisi ini menunjukkan kreativitas dalam masyarakat modern tidak musti diwujudkan dengan meninggalkan yang tradisional, melainkan secara sadar dan terus-menerus menggali bentuk dan ornamen yang disesuaikan dengan zaman.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger